MENGAPA TIDAK MENJADIKAN MAHASISWA SEBAGAI FOKUS STRATEGI PENGEMBANGAN SEBUAH PERGURUAN TINGGI ?

Ketika Dr. Kaoru Ishikawa (pakar Quality Management dari Jepang) diberi pertanyaan oleh banyak industri manufaktur di Jepang dalam sebuah seminar, produk apa yang harus ditawarkan kepada konsumen ? Beliau menjawab dengan pertanyaan balik: siapa konsumennya ?

Mengapa Ishikawa balik bertanya dengan pertanyaan siapa konsumennya ? Pertanyaan balik tersebut memiliki makna yang sangat mendasar, artinya : tanpa mengetahui siapa konsumennya, maka produk yang akan ditawarkan oleh seberapapun besarnya perusahaan dengan budget promosi yang besar tetap tidak pernah menyentuh kebutuhan dan kepuasan konsumen sasarannya.

Contoh kasus keberhasilan tentang perlunya fokus mengetahui siapa konsumennya adalah seperti yang dilakoni Arjuna diantara ratusan murid pendeta Durna dalam serial pewayangan yang terkenal itu. Hanya Arjuna-lah murid pendeta Durna yang memiliki strategi fokus pada setiap akan membidik anak panahnya. Sedang yang lain tidak ada kefokusan dalam membidikkan anak panahnya.

Konon kasus keberhasilan Arjuna dalam memanah akhirnya diacu oleh seluruh ahli strategi pemasaran untuk memastikan keberhasilan rencana pemasarannya. Dengan fokus, maka perusahaan akan memiliki informasi yang lebih nyata terhadap konsumen sasarannya. Dengan adanya fokus dalam membuat strategi, maka dapat menghemat biaya pemasaran sekaligus meningkatkan efektivitasnya. Bisakah strategi fokus diaplikasikan pada strategi pengembangan sebuah perguruan tinggi, Mengapa tidak ?

Jika focus strategy layak diterapkan, lalu siapakah konsumen yang harus dipilih diantara banyak konsumen yang selama ini telah dibidik perguruan tinggi. Ketepatan dalam memilih konsumen memungkinkan terjaminnya darah segar (penuh oksigen) dalam mengembangkan lebih lanjut perguruan tinggi. Siapakah yang tepat dijadikan sebagai konsumen utama perguruan tinggi ? konsumen perguruan tinggi diantaranya adalah Pemerintah, masyarakat, industri serta mahasiswa.

Empat Konsumen Perguruan Tinggi

Pemerintah sering menggunakan Universitas untuk mencari masukan sekaligus evaluasi bagi kebijakan publik yang akan dan telah diterapkan, bahkan tidak segan-segan Pemerintah menarik langsung tenaga akademis (dosen) masuk sebagai birokrat.

Masyarakat dan industri menikmati layanan Universitas melalui implementasi dari ilmu pengetahuan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat yang dikembangkan. Masyarakat dan Industri sebagai inspirator dan tujuan pengembangan iptek melalui salah satu tri dharma perguruan tinggi pengabdian pada masyarakat. Selain Pemerintah, Masyarakat dan Industri, konsumen yang terakhir adalah mahasiswa. Mahasiswa adalah konsumen yang kasat mata seolah tidak memberi sesuatu kepada perguruan tinggi, sebaliknya mahasiswa malah yang meminta sesuatu (ilmu) dari perguruan tinggi.

Pada dasarnya, keberadaan mahasiswa adalah sebagai prasyarat sebuah lembaga disebut perguruan tinggi. Dengan demikian suka tidak suka posisi mahasiswa dibanding Pemerintah, Masyarakat dan Industri memiliki kedudukan yang lebih vital. Perguruan tinggi “tanpa” adanya pemerintah, industri dan masyarakat bisa disebut perguruan tinggi. Dengan demikian, apabila sebuah Universitas berkeinginan memperbaiki perannya sesuai latar belakang berdirinya, maka mahasiswalah yang harus dijadikan sebagai pengguna utamanya.

Namun anehnya, banyak perguruan tinggi yang menjadikan mahasiswa sebagai obyek bagi tujuan-tujuan yang jika dianalisis lebih mendalam mahasiswa lebih tepat dijadikan sebagai sarana dalam mencapai keberhasilan-keberhasilan perguruan tinggi. Contoh dari kasus ini adalah masih banyaknya para pimpinan sebuah perguruan tinggi baik di tingkat jurusan, fakultas hingga universitas disibukkan dengan wacana-wacana pengembangan yang menghabiskan dana besar, namun kegiatan yang menyentuh langsung kepuasan mahasiswa jarang dilakukan, artinya rapat-rapat, rencana strategis (renstra) atau yang saat ini sering orang menyebut dengan road map tidak pernah atau kalau berpikir positif terhadap semua kegiatan tersebut masih sedikit yang menyentuh indikator-indikator yang dapat membuat mahasiswa puas (customer satisfaction).

Contoh riil dari kasus ini adalah: sebegitu seringnya rapat-rapat yang dilakukan dengan anggaran besar (terkadang berjudul pengembangan proses belajar mengajar) dimana rapat tersebut diadakan di tempat nyaman (kalau tidak bisa disebut mewah), menginap di hotel dengan alasan agar lebih fokus dan tidak diganggu kegiatan-kegiatan keseharian; namun tetap hanya berakhir pada tumpukan kertas kerja dari sekian banyak pakar, tapi bagaimana kelanjutanya ?

Untuk mengetahui hal ini bisa dicross ceck kepada mahasiswa atau yang “agak hati-hati” mengumpulkan informasi dari ketua jurusan atau ketua program studi tentang hal-hal apa yang selama ini sudah diinstruksikan oleh pimpinan tingkat universitas dan telah disampaikan dibeberapa kesempatan sebagai keberhasilan-keberhasilan universitas namun ternyata belum diimplementasikan oleh jurusan atau program studi. Substansi dari hal ini adalah apa-apa yang selama ini telah disampaikan kepada seluruh civitas akademica sebenarnya masih terbatas dalam wacana atau rencana-rencana semata.

Pemilihan mahasiswa sebagai pengguna utama sebuah Universitas memang bukan strategi populer bagi sebagian besar Rektor dan dosen di Indonesia, karena strategi tersebut tidak cepat mendatangkan hasil. Berbeda dengan Pemerintah sebagai penggunanya, maka Rektor ataupun dosen memperoleh kemudahan berupa akses berupa potensi menjadi pejabat struktural di birokrasi (menteri, staf ahli dll) dan kontinuitas kerjasama sehingga diperoleh bentuk-bentuk bangunan fisik yang lebih kelihatan secara materi. Pengguna Industri dipilih karena tidak berbelit-belit seperti Pemerintah, sehingga ada kejelasan dari segi revenue. Kerjasama dengan kedua pengguna (Pemerintah dan Industri) sering berkorelasi positif dengan kesejahteraan. Pengguna masyarakat biasanya diwujudkan melalui salah satu aspek dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian pada masyarakat (P2M), meskipun tidak menutup kemungkinan adanya praktek-praktek pengakuan sebagai bentuk pengabdian oleh para dosen meskipun masyarakat sudah exist sebelum adanya pengabdian tersebut. Ketiga kegiatan ini sering disebut sebagai keberhasilan, karena secara kasat mata dosen memperoleh tambahan yang mudah diukur, hitungan finansial.

Bagaimana dengan pengguna mahasiswa ? Diantara 4 pengguna perguruan tinggi, maka mahasiswa adalah pengguna yang paling sedikit mendatangkan direct revenue bagi perguruan tinggi maupun dosen dalam waktu dekat. Dosen yang lebih memilih 3 pengguna sebelumnya tidak bisa disalahkan total, karena sistem reward bagi PNS yang ada di negeri ini memang tidak mendorong motivasi kerja cerdas dan keras. Kerja tidak kerja memperoleh penghargaan yang sama. Anehnya, sistem reward yang seperti ini sampai saat ini masih dipertahankan, bahkan cenderung dikembangkan.

Bila hal ini tidak segera diantisipasi, bukan tidak mungkin SDM sebuah perguruan tinggi merupakan SDM kelas dua (saat ini sudah terjadi). SDM kelas satu lebih memilih jalur pekerjaan yang didalamnya memberlakukan reward system berdasarkan produktivity dan pemberian added value. Jika dibiarkan berlanjut, kondisi semacam ini bisa menyebabkan kampus berubah fungsi sebagai pengguna ilmu, tempat yang seharusnya menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban.

Mengapa harus Mahasiswa ?

Dalam konteks persaingan, jika jumlah produsen yang terjadi meningkat tajam, sedangkan pasar/konsumen yang diperebutkan cenderung tetap akan melahirkan strategi-strategi baru yang cerdas. Namun pada suatu titik tertentu, impact dari inovasi strategi yang dilakukan tidak sebanding dengan sumberdaya yang dikorbankan. Artinya, jika strategi yang dirumuskan masih bersifat increamental strategy, maka keberhasilan yang diperoleh akan cenderung menurun selisihnya. Oleh karena itu, agar risiko yang diterima tidak berkelanjutan, maka harus dikembangkan dengan pendekatan lain, suatu pendekatan yang tidak baku seperti perumusan strategi sebelum-sebelumnya, pendekatan ini biasa disebut sebagai lateral approach.

Bagaimana jika masih menggunakan model perumusan strategi yang lama ? Dalam konteks pengembangan Pendidikan Tinggi masa depan, efektivitas strategi menjadi rendah karena marjin diantara universitas dalam memperebutkan kue pemerintah, industri dan masyarakat menjadi kian kecil. Dalam konteks yang demikian, bukan tidak mungkin akan memunculkan langkah-langkah yang cenderung mengarah pada cara-cara yang tidak lagi mencerminkan sikap dan perilaku yang jauh dari etika akademis.

Kasus keberhasilan pengembangan sarana fisik Perguruan Tinggi besar seperti IPB, UI, ITB dan UGM bisa dikaitkan dengan proporsi jumlah dosen dari Perguruan Tinggi tersebut yang menduduki jabatan birokrasi (Menteri, Dirjen dst). Mengapa itu selalu berkorelasi positif ? Memang belum ada penelitian yang menyebutkan adanya unsur KKN dibalik itu semua. Namun hal itu dapat dibalik dengan sebuah pertanyaan yang sampai saat ini belum memperoleh jawaban tuntas adalah: mengapa setelah dosen perguruan tinggi tersebut turun dari jabatan politis/birokrat tersebut langsung diikuti dengan turunnya keberhasilan-keberhasilan yang dicatat sebagai keberhasilan sebelumnya ?

Dengan demikian, jika asumsi strategi melalui jalur pendekatan birokrasi benar telah dilakukan ke empat perguruan tinggi-perguruan tinggi tersebut besar, maka hal itu bukan merupakan suatu keberhasilan. Kasus merananya Universitas-universitas besar karena harus menanggung beban biaya yang sudah terbiasa ditanggungnya sebagai akibat tidak berlanjutnya keberhasilan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, dan beberapa lembaga ilmiah didalamnya adalah contoh riil bagaimana dampak dari penodaan etika akademik yang dibudayakan.

Paradox dengan Universitas sebagai lembaga yang mengedepankan nilai-nilai obyektivitas, penuh keraguan (skeptis), proporsional dan kejujuran. Disamping semakin kecilnya pasar yang dapat dimasuki sebagai akibat banyaknya Perguruan Tinggi yang terjun dalam pasar yang sama, derivat yang perlu dipertimbangkan dan jauh lebih penting adalah dimungkinkannya pembentukan karakter yang mengarah pada semakin jauh dari pembentukan atmosphere academic.

Dengan melihat selintas tentang beberapa hal di atas, dengan didorong untuk menempatkan etika akademis sebagai mindset, maka ada beberapa hal kelebihan yang diperoleh sebuah Universitas menempatkan mahasiswa sebagai fokus strateginya, yaitu : Jika selama menjalankan perannya sebagai mahasiswa dilayani dengan bagus oleh Universitas, maka akan menghasilkan kualitas lulusan yang bagus. Derivat dari ini, maka competitiveness alumni meningkat, karir kerja meningkat.

Sebagai imbal balik para alumni yang merasa dibantu selama ia menjadi mahasiswa dulu, maka peran almamater tidak akan dilupakan jasa-jasanya, apa balas budi para alumni kepada almamaternya ? diantara sekian banyak peran alumni kepada almamater adalah :

1. Memberi masukan tentang current issue, yang harus direspon oleh almamater sehingga ada perbaikan kurikulum, silabus hingga sistem perkuliahan yang tepat dilaksanakan,

2. Kepercayaan alumni akan almamater yang telah berjasa besar berbuah pada terjalinnya networking perusahaan tempat ia bekerja dengan almamater (sismbiosis mutualisme untuk kemajuan bersama, perekrutan tenaga kerja, dll)

3. Kerjasama lain yang akan disesuiakan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masa datang

Dengan demikian fokus pengembangan perguruan tinggi yang menjadikan mahasiswa sebagai target pasar/konsumen utamanya akan berdampak besar dan bersifat jangka panjang dan lebih terjamin kontinuitasnya. Wallahu’alam bishshawab

Artikel ini dimuat dalam Majalah Mediator, Edisi 5 Tahun 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Skip to toolbar